EMPIRISME: ANTARA PENGAMATAN, REALISME, DAN BATASAN PENALARAN ILMIAH
EMPIRISME: ANTARA PENGAMATAN, REALISME, DAN BATASAN PENALARAN ILMIAH
Oleh: - Hadi Taufiqur Rahman
- Latifah
Mahasiswa S2 Manajemen Pendidikan UNESA
Pendahuluan
Empirisme merupakan salah satu aliran paling berpengaruh dalam filsafat sains dan epistemologi. Meskipun istilah ini sering dihubungkan dengan pernyataan sederhana bahwa pengalaman indrawi adalah sumber pengetahuan, sejarahnya penuh nuansa. Elliott Sober menyoroti bagaimana empirisme telah mengambil bentuk berbeda dalam konteks filsafat ilmu modern—bukan lagi sekadar berhadapan dengan rasionalisme, tetapi lebih banyak berhadapan dengan realisme ilmiah.
Filosofi sains, khususnya yang berkaitan dengan metode pengujian dan penerimaan teori, memegang peranan krusial dalam dunia akademis, termasuk dalam kerangka Manajemen Pendidikan. Sebuah pemahaman yang mendalam tentang aliran pemikiran seperti Empirisme dapat memberikan perspektif kritis mengenai bagaimana pengetahuan diperoleh dan diakui valid.
Artikel ini merangkum dan mengembangkan gagasan Sober tentang empirisme, perannya dalam memahami observasi, kritik terhadap empirisme konstruktif van Fraassen, serta tawarannya tentang empirisme kontrastif, yaitu bentuk empirisme yang memusatkan perhatian pada kemampuan sains dalam membedakan teori melalui pengamatan.
1. Emprirme dan Realisme : Memahami Dua Kutub
Dalam konteks filsafat modern, empirisme tidak lagi dibahas sebagai lawan rasionalisme. Pemisahan klasik “rasionalis mengandalkan akal, empirisis mengandalkan pengalaman” dianggap terlalu menyederhanakan sejarah. Dalam filsafat sains kontemporer, justru realisme ilmiah yang menjadi lawan empirisme.
Secara mendasar, Empirisme adalah sebuah pandangan filosofis yang menekankan peran pengalaman indrawi sebagai sumber utama atau satu-satunya sumber pengetahuan. Ini secara tegas membedakannya dari Rasionalisme, yang justru menekankan peran akal dalam perolehan pengetahuan. Dalam konteks sains dan filsafat, Empirisme sering kali memiliki berbagai makna, namun benang merahnya adalah penekanan pada apa yang dapat diamati. Secara garis besar:
· Realisme ilmiah menganggap bahwa teori ilmiah yang baik dan terkonfirmasi semestinya dipercaya sebagai benar, termasuk pernyataannya tentang entitas tak teramati (quark, gen, elektron). Perbedaan paling signifikan dari Empirisme (khususnya dalam kaitannya dengan sains) terletak pada pandangannya terhadap Realisme Ilmiah. Realisme Ilmiah berpendapat bahwa teori-teori ilmiah yang terkonfirmasi dengan baik harus dianggap benar (secara ontologis).
· Empirisme berpendapat bahwa teori ilmiah tidak harus dianggap benar, tetapi cukup dianggap memadai secara empiris, yaitu berhasil menggambarkan fenomena yang teramati. Empirisme berpendapat bahwa teori ilmiah hanya perlu dianggap memadai secara empiris (empirically adequate), artinya teori tersebut harus mampu menangkap dan menjelaskan fenomena yang dapat diamati.
Van Fraassen menyebut posisi ini sebagai empirisme konstruktif. Sober mengibaratkan perbedaan ini seperti hubungan antara:
· teisme vs agnostisisme → mirip realisme vs empirisme
· sedangkan ateisme → mirip fiksionalisme (teori ilmiah dianggap selalu salah)
Bagi seorang Empiris, observasi adalah satu-satunya sumber informasi tentang apakah suatu teori memadai secara empiris. Sementara bagi seorang Realis, observasi memberikan informasi tentang apakah teori itu benar. Empiris menyangkal keharusan untuk mempercayai deskripsi realitas yang tidak dapat diamati. Analogi yang sering digunakan adalah: Empirisme bagi Realisme sama seperti Agnostisisme bagi Teisme.
Kasus historis Galileo dan Gereja menjadi ilustrasi yang jelas. Kardinal Bellarmine tidak keberatan Galileo menggunakan hipotesis heliosentrisme sebagai alat untuk memprediksi (memadai secara empiris), tetapi keberatan pada pernyataan Galileo bahwa heliosentrisme itu benar (realisme).
2. Emprirme : Antara Fakta Dan Persepsi
Empirisme terutama versi van Fraassen mengedepankan perbedaan antara yang dapat diamati (observable) dan yang tidak dapat diamati (unobservable).
Namun Sober menilai konsep “keteramatan” (observability) yang digunakan van Fraassen terlalu kabur dan tidak cukup diberi dasar filosofis, karena:
· Bersifat modal (kontrafaktual): sesuatu dianggap dapat diamati jika manusia berada pada kondisi tertentu
· Bergantung pada fitur biologis manusia (mengapa hanya manusia?)
· Tidak memberikan definisi memadai tentang apa itu “melihat objek”
Sober menunjukkan bahwa empirisme tetap membutuhkan teori filsafat persepsi agar konsep “pengamatan” tidak menjadi kosong. Dalam Empirisme, konsep observasi dibagi menjadi dua jenis:
1. Observasi Proposisional: Kita mengamati bahwa berbagai proposisi itu benar (misalnya, melihat bahwa ada akselerator linier).
2. Observasi Objektual: Kita mengamati objek (misalnya, melihat akselerator linier itu sendiri).
3. Pernyataan Observasi: Masalah Netralitas Teori
Salah satu alasan van Fraassen memilih konsep “entitas dapat diamati” dibanding “pernyataan observasional” adalah keyakinannya bahwa semua istilah sarat teori (theory-laden). Artinya, setiap istilah membutuhkan pengetahuan teoretis untuk dipakai. Sober menanggapi bahwa hal ini hanya menolak netralitas teori absolut, bukan netralitas relatif.
Van Fraassen berpendapat bahwa Empirisme membutuhkan perbedaan antara entitas yang dapat diamati dan tidak dapat diamati oleh kita (manusia), bukan sekadar antara observasi dan pernyataan teoritis. Dapat Diamati adalah agar ada keadaan sedemikian rupa sehingga jika kita berada dalam keadaan itu (perubahan lokasi ruang dan waktu kita), kita akan mengamati objek tersebut dengan mata telanjang. Contohnya, dinosaurus dan bulan-bulan Jupiter, yang dapat dilihat jika berada pada tempat dan waktu yang tepat. Tidak Dapat Diamati jika bukti tidak pernah dapat mewajibkan kita untuk percaya bahwa entitas tersebut ada.
Dalam Empirisme, penerimaan (acceptance) sebuah teori diartikan sebagai menganggap teori tersebut memadai secara empiris. Ini berbeda dengan Realisme, yang mengartikan penerimaan sebagai menganggap teori tersebut benar.
Pada akhirnya, Empirisme dipandang sebagai tesis tentang kekuatan penalaran ilmiah yang terbatas. Ilmuwan dibatasi oleh pengamatan yang mereka miliki, dan oleh karena itu, fokus ilmiah harus berada pada masalah-masalah yang dapat dipecahkan oleh pengamatan.
Pandangan ini juga menimbulkan skeptisisme terhadap kesederhanaan (simplicity) sebagai bukti kebenaran (disebut sebagai Kebajikan Super-Empiris), karena Empiris berpendapat bahwa kesederhanaan harus memiliki alasan empiris mengapa ia harus dijadikan panduan. Melalui kacamata Empirisme, tujuan utama sains adalah membawa pengamatan untuk membandingkan teori.
Penerapan Teori Empirisme di Sekolah
Implementasi Empirisme di Sekolah Dasar (Studi Kasus: Menanam Serai)
Di Sekolah Dasar, Empirisme diwujudkan melalui pembelajaran yang konkret, di mana anak-anak menggunakan indra mereka untuk mengamati, berinteraksi, dan menarik kesimpulan. Proyek menanam serai adalah contoh sempurna untuk menerapkan konsep ini.
Kesimpulan
Empirisme bukan merupakan ketakutan terhadap hal-hal yang tidak dapat diamati, dan bukan pula larangan terhadap entitas teoretis. Empirisme terbaik adalah yang dipahami sebagai tesis tentang keterbatasan penalaran ilmiah. Selain itu tujuan sains harus dipahami sebagai tujuan yang dapat dicapai, bukan sebagai harapan ideal ilmuwan.