Logical Empiricism: Cara Berpikir Ilmiah yang Membumi dalam Dunia Pendidikan
Logical Empiricism: Cara Berpikir Ilmiah yang Membumi dalam Dunia Pendidikan
Mojokerto, 08 Des. 2025 - Dalam perjalanan saya sebagai mahasiswa S2 Manajemen Pendidikan, ada satu topik dalam mata kuliah Filsafat Ilmu yang membuat saya merasa seperti “menemukan kacamata baru” untuk melihat dunia Pendidikan yaitu Logical Empiricism atau Empirisme Logis.
Awalnya istilah ini terdengar berat. Namun ketika saya mempelajarinya melalui arahan Pak Amrozi, dosen sekaligus Kaprodi S2 Manajemen Pendidikan, saya justru menyadari bahwa aliran filsafat ini sangat dekat dengan kehidupan akademik dan manajemen pendidikan masa kini. Logical Empiricism lahir pada awal abad ke-20 dari sebuah kelompok intelektual di Austria yang dikenal sebagai Vienna Circle. Para pemikir di kelompok ini sepakat bahwa pengetahuan yang sahih harus bisa dibuktikan melalui pengalaman (empiris) dan dijelaskan secara logis, bukan berdasar pada spekulasi, keyakinan dogmatis, atau pernyataan metafisis yang tidak bisa diuji. Tokoh-tokoh seperti Rudolf Carnap, Moritz Schlick, Otto Neurath, hingga pengaruh awal dari Bertrand Russell dan Ludwig Wittgenstein, memberikan fondasi kuat bagi cara berpikir ilmiah modern.
Jika saat ini kita merasa bahwa riset ilmiah harus punya data, metode yang transparan, dan argumentasi yang terstruktur, itu salah satunya merupakan warisan dari Logical Empiricism. Dari sekian banyak gagasan, salah satu yang paling terkenal adalah prinsip verifikasi. Menurut prinsip ini, Contohnya “Air mendidih pada suhu 100°C” (bisa diuji), jadi ilmiah., sedangkan “Alam semesta memiliki kesadaran yang tak kasat mata” (tidak bisa diuji), sehingga tidak dianggap ilmiah. Walaupun terlihat ketat, sebuah pernyataan baru dianggap bermakna secara ilmiah kalau bisa diuji kebenarannya melalui pengalaman empiris. Prinsip ini membantu membedakan mana yang ilmiah dan mana yang hanya pendapat tanpa dasar. Dalam konteks pendidikan, Logical Empiricism sebenarnya sangat dekat dengan tren Pendidikan yang modern.
Guru atau pendidik tidak lagi cukup mengandalkan intuisi atau kebiasaan lama.
Keputusan pembelajaran harus didasarkan pada data, misalnya hasil evaluasi belajar, efektivitas metode tertentu, kebutuhan peserta didik berdasarkan observasi nyata. Pada pengajaran sains yang obektif Logical Empiricism mendorong pengajaran yang mengutamakan observasi, percobaan, logika, pemahaman yang dapat diuji. Dalam pendidikan modern, guru dituntut untuk menjadi fasilitator yang mendorong peserta didik berpikir kritis, bukan sekadar menghafal. Logical Empiricism pun tidak luput dari kritik diantaranya tidak semua teori ilmiah bisa diverifikasi langsung. Logical Empiricism mengajak kita untuk menjadi pendidik yang rasional, objektif, dan tidak mudah terjebak asumsi. Belajar tentang Logical Empiricism bukan hanya belajar tentang sejarah filsafat, melainkan belajar tentang fondasi cara berpikir ilmiah yang membentuk pendidikan modern.
Bagi saya pribadi, aliran ini mengajarkan satu hal bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang berani diuji, terbuka terhadap bukti, dan mengedepankan akal sehat.
PENULIS
IKA NUR SETYAWATI
S2 MANAJEMEN PENDIDIKAN
KELAS 2025L
NIM. 25010845050