Memahami Pendidikan dari Perspektif Ontologi
Nama : Dyan Putri Aprilia NIM : 25010845001
Memahami Pendidikan dari Perspektif Ontologi
![]() |
![]() |
Ilmu pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari peran filsafat sebagai fondasi berpikir yang mendalam dan reflektif. Jika ilmu bertugas menggambarkan fenomena alam dan sosial secara sistematis, maka filsafat hadir untuk menjelaskan hakikat dan kebenaran di balik fenomena tersebut. Dalam konteks ini, filsafat menjadi penopang perkembangan ilmu pengetahuan, sekaligus sarana manusia untuk mencari kebenaran yang paling mendasar tentang realitas kehidupan. Salah satu cabang utama filsafat yang berperan penting dalam proses tersebut adalah ontologi, yaitu kajian filosofis tentang “yang ada” dan hakikat keberadaan segala sesuatu.
Ontologi berasal dari kata Yunani ontos yang berarti “yang ada” dan logos yang berarti “ilmu”. Secara sederhana, ontologi merupakan cabang filsafat yang membahas keberadaan secara universal, tidak terbatas pada satu bentuk atau wujud tertentu. Ontologi menelaah realitas secara mendasar, mencakup segala sesuatu yang nyata maupun yang mungkin ada, baik yang bersifat fisik maupun nonfisik. Oleh karena itu, ontologi sering dipandang sebagai inti dari metafisika, karena fokus utamanya adalah memahami realitas dan asas-asas rasional dari keberadaan itu sendiri.
Meskipun kerap disamakan, ontologi dan metafisika memiliki perbedaan ruang lingkup. Ontologi lebih spesifik membahas pertanyaan mendasar seperti “apa arti ada” dan “apa hakikat keberadaan”, sedangkan metafisika mencakup pembahasan yang lebih luas, termasuk Tuhan, jiwa,
ruang, waktu, dan sebab-akibat. Dengan demikian, ontologi dapat dipahami sebagai bagian inti dari metafisika yang secara khusus menelaah struktur dan kategori dasar realitas.
Dalam kajiannya, ontologi memiliki beberapa karakteristik utama. Ontologi tidak hanya mempertanyakan keberadaan sesuatu secara fisik, tetapi juga mengakui keberadaan ide, nilai, dan konsep abstrak. Selain itu, ontologi mempelajari struktur realitas, seperti perbedaan antara potensi dan aktualitas, esensi dan eksistensi, serta antara yang nyata dan yang tampak. Lebih jauh, ontologi juga berupaya mencari prinsip dasar yang mutlak sebagai penopang seluruh realitas, sekaligus menilai apakah suatu fenomena benar-benar nyata atau hanya bersifat semu.
Perkembangan pemikiran ontologis melahirkan berbagai aliran filsafat, seperti agnostisisme, nihilisme, pluralisme, dualisme, dan monisme. Agnostisisme menekankan keterbatasan manusia dalam mengetahui realitas metafisis secara pasti, sementara nihilisme mempertanyakan keberadaan makna dan nilai yang absolut dalam kehidupan. Di sisi lain, pluralisme mengakui keberagaman realitas dan kebenaran, dualisme melihat realitas sebagai gabungan dua prinsip utama seperti jiwa dan raga, sedangkan monisme menegaskan bahwa seluruh realitas berasal dari satu substansi tunggal.
Pemahaman ontologis ini tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga memiliki implikasi praktis, khususnya dalam dunia pendidikan. Cara pandang terhadap hakikat manusia akan memengaruhi model pendidikan yang diterapkan. Pendidikan yang memandang peserta didik sebagai objek pasif cenderung bersifat teacher-centered, sedangkan pendidikan yang memahami manusia sebagai subjek aktif akan mendorong pembelajaran yang partisipatif dan bermakna. Hal ini tercermin dalam kebijakan Kurikulum Merdeka Belajar di Indonesia, yang berangkat dari pemahaman ontologis bahwa peserta didik adalah individu yang memiliki potensi, kreativitas, dan kebebasan untuk mengembangkan dirinya. Dengan demikian, ontologi tidak hanya menjadi kajian abstrak dalam filsafat, tetapi juga berperan strategis dalam membentuk cara pandang manusia terhadap ilmu, realitas, dan praktik kehidupan, termasuk dalam penyelenggaraan pendidikan yang lebih humanis dan berorientasi pada pengembangan potensi manusia secara utuh.

