MENGENAL PRAGMATISME MELALUI MATA KULIAH FILSAFAT
![]() |
MENGENAL PRAGMATISME MELALUI MATA KULIAH FILSAFAT
Pragmatisme kata yang mungkin sering kita dengar namun tidak begitu paham maknanya. Melalui mata kuliah filsafat kami banyak mengenal istilah-istilah baru, salahsatunya yaitu tentang pragmatism. Mata kuliah ini diampu oleh Dr. Amrozi Khamidi. Pada materi tentang pragmatisme kami mengupas pendapat dari Robert Almeder, seorang filsuf kontemporer, memberikan kontribusi signifikan dalam mempertahankan dan mengembangkan pragmatisme, khususnya dalam epistemologi dan filsafat ilmu pengetahuan. Almeder mendefinisikan pragmatisme sebagai pandangan bahwa penerimaan rasional suatu keyakinan bergantung pada apakah keyakinan tersebut adalah instrumen terbaik untuk mencapai tujuan kognitif, seperti penjelasan dan prediksi yang akurat. Ia menekankan elemen kunci seperti fallibilisme (bahwa semua pengetahuan rentan kesalahan) dan verifikasionisme (penekanan pada pengujian empiris). Almeder membela pragmatisme yang harus tetap realistis dan objektif, menghindari relativisme yang berlebihan.
Pembahasan pragmatisme dengan rujukan pada Almeder sangat relevan saat ini untuk menghadapi tantangan epistemologis modern, seperti skeptisisme dan krisis kebenaran di era digital. Pendekatannya memberikan respons kuat terhadap skeptisisme dengan menekankan bahwa justifikasi empiris dan konsekuensi praktis sudah memadai untuk menetapkan pengetahuan, tanpa memerlukan kepastian absolut yang mustahil. Kontribusi Almeder yang paling penting adalah upayanya menjembatani pragmatisme klasik dan kontemporer dengan menolak interpretasi yang mengidentikkan kebenaran hanya dengan utilitas semata. Pemikiran Almeder menjadikan pragmatisme sebagai alat yang kuat untuk membahas realisme dalam ilmu pengetahuan dan etika. Pada intinya, kontribusi Almeder memperkaya pemahaman kita bahwa pragmatisme adalah lebih dari sekadar teori filsafat; ia adalah metodologi untuk hidup dan berinteraksi dengan dunia. Filsafat, melalui lensa pragmatisme Almeder, adalah alat vital yang harus digunakan untuk memecahkan masalah praktis, bukan sekadar permainan bahasa yang terputus dari kenyataan, sesuatu dianggap benar apabila bermanfaat dan berguna bagi kehidupan manusia.
Dari pembahasan terkait pragmatisme ini memberikan pandangan kepada kami, bahwa prgmatisme sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu terkait manfaat prkatis dari suatu kebenaran. Kebenaran dianggap pragmatis apabila memiliki kebermanfaat.
Oleh : Dyah Nur Khafifah
Prodi : S2 Manajemen Pendidikan
NIM : 25010845052
Kelas : L
