Perenialisme dan Relevansinya dalam Sistem Pendidikan Indonesia
Perenialisme dan Relevansinya dalam Sistem Pendidikan Indonesia
Moch. Firmansyah
Dalam dunia pendidikan yang terus berkembang, berbagai aliran filosofi mencoba menjawab tantangan zaman. Salah satunya adalah perenialisme, sebuah paham yang menekankan pentingnya nilai-nilai abadi, warisan intelektual, dan pengembangan akal budi. Bagaimana relevansi pandangan ini dalam konteks pendidikan Indonesia yang dinamis dan penuh perubahan?
Perenialisme, berasal dari kata “perennial” yang berarti abadi, berakar pada pemikiran filsuf seperti Plato, Aristoteles, dan Thomas Aquinas. Aliran ini percaya bahwa kebenaran dan nilai-nilai fundamental bersifat universal dan tidak berubah sepanjang zaman. Dalam pendidikan, perenialisme bertujuan membentuk individu yang mampu berpikir kritis dan logis melalui kajian mendalam terhadap warisan pemikiran besar peradaban.
Di Indonesia, sistem pendidikan sering kali dihadapkan pada polemik kurikulum yang berganti hampir setiap periode kepemimpinan. Perenialisme menawarkan penangkal melalui penekanan pada kurikulum yang stabil dan berpusat pada mata pelajaran inti. Pendekatan ini mengajak kita untuk berefleksi: apakah pendidikan kita sudah cukup memberikan fondasi nilai yang kokoh, atau sekadar mengikuti tren sesaat?
Salah satu prinsip utama perenialisme adalah penguasaan “The Great Books” atau karya-karya agung pemikiran manusia. Dalam konteks Indonesia, hal ini dapat diartikan sebagai pendalaman tidak hanya terhadap khazanah global, tetapi juga warisan literasi dan kearifan lokal seperti karya sastra klasik, naskah kuno, serta pemikiran para pendiri bangsa. Sayangnya, materi-materi semacam ini sering terpinggirkan dalam kurikulum yang lebih berorientasi pada keterampilan teknis.
Peran guru dalam perenialisme juga sangat sentral: guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pemandu diskusi, model intelektual, dan ahli di bidangnya. Hal ini sejalan dengan tuntutan profesionalisme guru di Indonesia, meski dalam praktiknya, beban administratif dan kurangnya pelatihan sering menghambat peran ideal tersebut.
Di sisi lain, perenialisme mendapat kritik karena dianggap elitis dan kurang memperhatikan kebutuhan praktis siswa. Dalam masyarakat Indonesia yang beragam dengan tantangan ekonomi dan sosial yang nyata, pendidikan tidak bisa hanya berfokus pada kajian teks klasik. Keterampilan vokasional, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi tetap dibutuhkan.
Namun, di tengah arus globalisasi dan derasnya informasi, perenialisme justru menawarkan penyeimbang. Dengan melestarikan warisan budaya dan intelektual, generasi muda Indonesia tidak kehilangan jati diri dan mampu menyaring pengaruh asing secara kritis. Nilai-nilai kebajikan, keindahan, dan kebenaran yang dijunjung tinggi oleh perenialisme dapat menjadi fondasi karakter bangsa.
Pendidikan Indonesia saat ini berada pada persimpangan: antara mempertahankan khazanah keilmuan tradisional dan mengadopsi inovasi modern. Perenialisme mengingatkan kita bahwa tidak semua yang baru lebih baik, dan tidak semua yang lama usang. Yang dibutuhkan adalah sintesis harmonis antara keduanya.
Implementasi perenialisme tidak harus kaku. Misalnya, metode diskusi Sokratik dapat diterapkan dalam pembelajaran PPKn atau sejarah untuk mendorong analisis mendalam. Kajian teks besar dapat diadaptasi dengan memasukkan karya-karya emas Indonesia, dari “Hikayat Hang Tuah” hingga pemikiran Ki Hajar Dewantara.
Sebagai penutup, perenialisme bukan sekadar teori usang, melainkan pengingat akan tujuan hakiki pendidikan: mencerdaskan kehidupan bangsa dengan tetap berpegang pada nilai-nilai luhur. Dalam upaya membangun pendidikan Indonesia yang bermartabat dan berkelanjutan, mungkin sudah saatnya kita menyelami kembali khazanah kebijaksanaan abadi yang pernah ada, tanpa menutup mata pada tantangan masa depan.
Dengan demikian, perenialisme bukan jawaban mutlak, tetapi sebuah perspektif berharga yang patut dipertimbangkan dalam merancang pendidikan Indonesia yang lebih integratif, mendalam, dan berkarakter.