Pragmatisme vs Realisme Ilmiah: Mahasiswa Bahas Kritik Robert Almeder
Pragmatisme vs Realisme Ilmiah: Mahasiswa Bahas Kritik Robert Almeder
Surabaya, 3 November 2025 — Mahasiswa S2 Program Studi Manajemen Pendidikan kelas 2025B Fakultas Ilmu Pendidikan melaksanakan kegiatan presentasi pada mata kuliah Filsafat Manajemen Pendidikan dengan fokus pembahasan pada PRAGMATISME DAN FILSAFAT ILMU. Kegiatan ini berlangsung secara daring melalui Gmeet fakultas dan dihadiri oleh dosen pengampu serta seluruh mahasiswa.
Presentasi yang dibawakan oleh Ira Diana Anggraini mahasiswa S2 MP kelas 2025 B ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman mahasiswa mengenai bagaimana pragmatisme dan filsafat ilmu mempengaruhi cara berpikir manajerial, pengambilan keputusan, serta penerapan konsep “kebermanfaatan” dalam praktik bisnis dan organisasi terutama di bidang pendidikan.
Dalam sesi tersebut, Kegiatan ini membahas hubungan antara aliran pragmatisme yang dipengaruhi oleh pemikiran Charles S. Peirce, William James, dan John Dewey dengan konsep kebenaran dalam ilmu pengetahuan. Pemateri juga menjelaskan bahwa pragmatisme memandang kebenaran sebagai sesuatu yang fungsional, tentatif, dan selalu terbuka untuk revisi sesuai manfaat dan konsekuensi praktisnya. Pendekatan ini memberikan cara pandang baru tentang bagaimana teori digunakan dalam praktik kehidupan maupun manajemen.
Materi kemudian dilanjutkan dengan pembahasan kritik tajam dari filsuf Robert Almeder terhadap klaim pragmatis. Almeder menegaskan bahwa sains tidak cukup hanya dinilai dari keberhasilannya dalam praktik; ilmu tetap harus berorientasi pada pencarian kebenaran objektif. Ia memperingatkan bahwa menyamakan “berguna” dengan “benar” dapat mengaburkan standar ilmiah dan melemahkan integritas pengetahuan.
Kegiatan berlangsung interaktif dengan adanya sesi tanya jawab dan diskusi kelas. Antusiasme mahasiswa terlihat dari berbagai pandangan kritis yang disampaikan, terutama mengenai bagaimana pragmatisme dapat digunakan untuk menghadapi tantangan ketidakpastian dalam praktik manajemen saat ini. Salah satu mahasiswa mengajukan pertanyaan mengenai konsep kebenaran dalam pragmatisme yang menilai sesuatu “benar” apabila membawa manfaat praktis. Ia mencontohkan obat yang menurut pemateri dianggap benar jika berhasil menurunkan panas dan membuat pasien merasa lebih baik. Dengan demikian, nilai kebenaran obat diukur dari keberhasilannya menyelesaikan masalah, bukan sekadar dari teori medis.
Mahasiswa tersebut kemudian bertanya lebih jauh: “Jika obat tidak menyembuhkan pasien, apakah obat itu masih dianggap benar menurut pragmatisme?” Diskusi kelas menghasilkan kesimpulan bahwa dalam pandangan pragmatis, kebenaran bersifat tentatif dan bergantung pada hasil. Jika obat tidak bekerja, maka klaim kebenaran tentang keefektifan obat tersebut harus direvisi. Hal ini menunjukkan bahwa bagi pragmatis, kebenaran bukan bersifat absolut, tetapi diuji melalui konsekuensi nyata dan selalu terbuka untuk evaluasi ulang.
Untuk penguatan materi di akhir sesi, Dosen pengampu Dr. Amrozi Khamidi, S.Pd., M.Pd. menjelaskan pentingnya keseimbangan antara pendekatan pragmatis dan realisme ilmiah. Beliau menekankan bahwa dalam ilmu pengetahuan, suatu teori tidak cukup dinilai hanya dari segi manfaat atau keberhasilan praktisnya, tetapi juga harus diuji berdasarkan ketepatan, logika, dan koherensi ilmiahnya. Beliau juga mendorong mahasiswa untuk menumbuhkan sikap ilmiah—berani mempertanyakan, menguji kembali, serta tidak mudah menerima sesuatu hanya karena dianggap “berfungsi.” Pendekatan ini menjadi bekal penting dalam penelitian, manajemen organisasi, maupun dalam memahami perkembangan ilmu pengetahuan secara umum.
Penulis
IRA DIANA ANGGRAINI
Mahasiswa S2 Manajemen Pendidikan Unesa Kelas B
Email : 25010845060@mhs.unesa.ac.id
NO HP 087853778286