RENCANA BISNIS TOGA

Program TOGA: Tanaman Obat Generasi Apik merupakan sebuah inovasi pembelajaran berbasis proyek yang dikembangkan di SD Negeri Mancilan 3 sebagai respons terhadap kebutuhan pembelajaran yang lebih kontekstual, ekologis, dan berorientasi pada penguatan kecakapan hidup siswa sekolah dasar. Program ini mengintegrasikan tiga domain utama pendidikan lingkungan, kesehatan, dan kewirausahaan melalui aktivitas menanam, merawat, mengolah, dan memasarkan tanaman obat. Sebagai model pembelajaran yang mengedepankan experiential learning, TOGA memungkinkan siswa untuk terlibat secara langsung dalam seluruh rantai aktivitas bercocok tanam mulai dari tahap perencanaan media tanam, pemilihan bibit, proses penanaman, perawatan rutin, hingga pemanenan dan pengolahan hasil menjadi produk bernilai ekonomis. Siswa tidak hanya mempelajari manfaat tanaman herbal seperti jahe, kunyit, sereh, kencur, mint, lidah buaya, dan sirih sebagai bagian dari pengetahuan kesehatan tradisional, tetapi juga memperoleh pemahaman bahwa tanaman tersebut memiliki potensi ekonomi yang dapat dimanfaatkan secara kreatif dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran semacam ini memperkuat literasi ekologis dan kesehatan siswa sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa alam menyediakan sumber daya yang dapat dikelola secara berkelanjutan.
Kekuatan utama program TOGA terletak pada desain organisasional yang menyerupai struktur usaha kecil sehingga memberikan pengalaman kewirausahaan nyata kepada siswa. Mereka dibagi ke dalam beberapa tim pembelian, penanaman, perawatan, pemasaran, dan keuangan yang masing-masing memiliki tugas spesifik sehingga seluruh proses berlangsung secara kolaboratif dan sistematis. Model pembagian tugas ini sangat efektif menanamkan konsep manajemen dasar seperti koordinasi, komunikasi, tanggung jawab peran, serta pemecahan masalah. Tim pemasaran, misalnya, belajar merancang strategi promosi, menyampaikan keunggulan produk, hingga berinteraksi langsung dengan calon pembeli di lingkungan sekolah. Sementara itu, tim keuangan mempraktikkan pencatatan arus kas sederhana, menghitung modal, laba, dan menentukan alokasi keuntungan secara transparan. Semua proses ini melatih siswa memahami alur usaha dari hulu ke hilir sekaligus memperkuat literasi finansial sejak usia dini—sebuah kompetensi penting dalam kurikulum modern.
Pada aspek pedagogis, TOGA mencerminkan secara eksplisit prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran berbasis proyek, diferensiasi, dan pemberdayaan siswa (student agency). Dengan menghadirkan konteks pembelajaran yang nyata, guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing siswa melakukan observasi, menyusun rencana kerja, menentukan solusi ketika menghadapi kendala pertumbuhan tanaman, hingga melakukan refleksi terhadap keberhasilan dan tantangan program. Karakter ini sejalan dengan pendekatan experiential learning ala Kolb yang menempatkan pengalaman konkret sebagai titik awal pembelajaran, diikuti proses refleksi, konseptualisasi, dan eksperimen aktif. Interaksi siswa dengan lingkungan menjadi katalis perkembangan keterampilan kognitif (memahami manfaat tanaman obat dan proses pertumbuhan), psikomotorik (melakukan aktivitas bercocok tanam dan pengolahan), serta afektif (memupuk rasa cinta lingkungan, disiplin, dan empati). Selain itu, melalui kerja kelompok, siswa mengembangkan keterampilan sosial seperti kemampuan bekerja dalam tim, berkomunikasi, mengambil keputusan bersama, dan menyelesaikan konflik secara sehat.
Program TOGA juga berkontribusi terhadap pembentukan budaya sekolah yang asri, sehat, dan produktif. Penanaman tanaman obat di area sekolah menciptakan suasana lingkungan yang lebih hijau, meningkatkan kualitas udara, serta memperkenalkan fungsi tanaman aromatik sebagai pengusir nyamuk atau pengharum alami. Kehadiran tanaman yang dirawat oleh siswa turut menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap lingkungan sekolah. Lebih dari itu, proyek ini memperlihatkan kepada siswa bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar secara teoretis, tetapi juga laboratorium kehidupan (living laboratory) yang memungkinkan mereka mengenal lebih dekat nilai-nilai keberlanjutan, kesehatan, dan kemandirian. Dari perspektif psikologis, keberhasilan merawat tanaman hingga tumbuh subur menjadi pengalaman keberhasilan (mastery experience) yang meningkatkan kepercayaan diri serta motivasi intrinsik siswa.
Inovasi produk olahan menjadi salah satu komponen yang memberi nilai tambah signifikan bagi program TOGA. Hasil panen tidak hanya dipasarkan secara langsung tetapi juga dikembangkan menjadi produk bernilai tambah seperti sabun lidah buaya, minuman herbal instan, bibit siap tanam, atau teh sereh. Proses ini menuntut kreativitas siswa dalam mengemas produk, merancang label, menentukan harga, hingga menguji kualitas produk. Pada tahap ini, guru dapat mengintegrasikan materi matematika (perhitungan modal dan laba), bahasa Indonesia (penulisan label dan promosi), IPA (fungsi tanaman), serta IPS (aktivitas ekonomi) secara alami dan menyeluruh. Dengan demikian, TOGA menjadi jembatan integrasi antara berbagai mata pelajaran dan membuka peluang penerapan pembelajaran lintas disiplin (cross-disciplinary learning) yang relevan dengan kehidupan nyata.
Dari perspektif akademik, program TOGA merupakan contoh konkret bagaimana konsep school-based entrepreneurship education dapat diterapkan di sekolah dasar melalui proyek sederhana namun kaya makna. Program ini menyentuh elemen-elemen penting pendidikan karakter seperti disiplin, kerja keras, kemandirian, tanggung jawab, dan kerja sama. Dalam konteks pembelajaran abad 21, TOGA memperkuat empat keterampilan utama yaitu kreativitas (dalam merancang produk), komunikasi (dalam mempromosikan dan menjelaskan manfaat tanaman), kolaborasi (dalam pembagian peran tim), dan berpikir kritis (dalam memecahkan tantangan pertumbuhan tanaman dan strategi pemasaran). Di saat yang sama, program ini menumbuhkan entrepreneurial mindset yang penting bagi pengembangan sumber daya manusia Indonesia ke depan.
Secara keseluruhan, TOGA: Tanaman Obat Generasi Apik merupakan praktik pembelajaran unggul yang memadukan aspek ekologis, edukatif, dan ekonomis dalam satu kegiatan yang terstruktur dan relevan bagi kehidupan siswa. Program ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak harus bersifat abstrak dan teoretis, tetapi dapat diwujudkan melalui pengalaman langsung yang bermakna, menyenangkan, dan memiliki dampak jangka panjang terhadap perkembangan karakter dan kompetensi siswa. Dengan keberhasilannya menumbuhkan kecakapan hidup, kreativitas, kepedulian lingkungan, serta jiwa kewirausahaan, TOGA layak disebut sebagai best practice yang dapat direplikasi di sekolah-sekolah lain di Indonesia sebagai bagian dari upaya memperkuat implementasi Kurikulum Merdeka dan membangun budaya belajar yang adaptif, kontekstual, dan humanistik.
Oleh:
PUJI SANTOSO
NIM: 25010845027 (Kelas : L)
Mata Kuliah Kewirausahaan
S2 Manajemen Pendidikan
Universitas Negeri Surabaya