Sejarah Awal dan Filsafat Eksperimen
EXPERIMENT – Filsafat Manajemen Pendidikan
Anies Ratnapuspita M (NIM 25010845037)
Sejarah Awal dan Filsafat Eksperimen
Sebelum abad ke-17, penelitian tentang alam masih sangat dipengaruhi oleh pandangan filsafat Aristoteles yang menekankan pengamatan langsung dan pengalaman sehari-hari sebagai sumber utama pengetahuan. Dalam kerangka ini, alam dipahami sebagaimana tampak oleh indera manusia tanpa adanya intervensi aktif melalui alat atau rekayasa tertentu. Cara pandang tersebut menempatkan pengamatan pasif sebagai dasar utama dalam memperoleh pengetahuan.
Memasuki abad ke-17, terjadi perubahan mendasar dalam cara manusia memahami alam. Eksperimen mulai dipandang sebagai tindakan aktif manusia untuk menyelidiki dan menguji fenomena alam, bukan sekadar mengamatinya. Tokoh penting dalam perubahan ini adalah Francis Bacon, yang mendorong penggunaan eksperimen secara sistematis sebagai sarana memperoleh pengetahuan yang lebih pasti, teruji, dan dapat diandalkan.
Perkembangan eksperimen juga didukung oleh penemuan berbagai alat ilmiah baru. Alat-alat tersebut memiliki fungsi utama untuk memperkuat kemampuan indera manusia, seperti teleskop dan mikroskop; menciptakan kondisi buatan yang terkendali, misalnya melalui pompa udara (air-pump) sehingga ilmuwan dapat menghasilkan fenomena baru; serta memungkinkan pengukuran perubahan secara kuantitatif, sebagaimana dilakukan oleh barometer. Perubahan ini menandai lahirnya sains modern, di mana eksperimen menjadi unsur sentral dalam menemukan dan membuktikan pengetahuan ilmiah. Theodore Arabatzis menekankan bahwa sejak saat itu, perkembangan ilmu pengetahuan tidak hanya bergantung pada teori, tetapi juga pada kemampuan manusia untuk memanipulasi, mengukur, dan mengontrol alam melalui praktik eksperimental.
Perkembangan Awal Eksperimen dan Tantangannya
Meskipun demikian, pada tahap awal perkembangannya, metode eksperimen masih menghadapi berbagai keraguan. Banyak ilmuwan dan filsuf mempertanyakan keabsahan eksperimen karena fenomena yang dihasilkan sering kali berbeda dari fenomena alamiah yang dapat diamati langsung oleh indera manusia. Selain itu, muncul keraguan apakah manipulasi alam dengan alat buatan benar-benar mampu mengungkapkan kebenaran alamiah.
Untuk menjawab keraguan tersebut, para ilmuwan dan filsuf eksperimental melakukan dua langkah penting. Pertama, mereka menunjukkan bahwa hasil eksperimen dapat diulang kapan pun dengan kondisi yang sama. Kedua, mereka melakukan eksperimen secara terbuka di hadapan publik serta mendokumentasikan hasilnya secara rinci dalam laporan ilmiah. Melalui upaya ini, pada abad ke-18 eksperimen akhirnya diterima sebagai dasar yang sah bagi ilmu pengetahuan.
Eksperimen dalam Filsafat Abad ke-19 dan Awal Abad ke-20
Pada abad ke-19, perdebatan mengenai peran eksperimen semakin berkembang. John Stuart Mill menyatakan bahwa pengamatan semata tidak cukup untuk membuktikan hubungan sebab-akibat, karena pengamatan hanya dapat menunjukkan urutan atau kebersamaan kejadian, bukan kausalitasnya. Oleh karena itu, menurut Mill, eksperimen merupakan sarana utama untuk menguji hubungan kausal secara ilmiah.
Pierre Duhem, seorang fisikawan dan filsuf Prancis, memberikan kontribusi penting dengan menyoroti hubungan antara hasil eksperimen dan teori ilmiah. Menurut Duhem, ilmuwan tidak pernah mengamati fakta secara murni, melainkan selalu menafsirkan hasil pengamatan berdasarkan teori yang telah diyakininya. Dengan demikian, hasil eksperimen bukan sekadar data mentah, melainkan penilaian ilmiah yang dipengaruhi oleh konsep-konsep teoretis. Duhem juga menekankan bahwa hasil eksperimen bersifat theory-laden, terdapat jarak antara fakta yang diamati dan hasil eksperimen, serta bahwa pengujian teori bersifat holistik karena eksperimen menguji sekumpulan hipotesis secara keseluruhan.
Peranan Eksperimen dalam Filsafat Sains Abad ke-20
Pada abad ke-20, kaum empiris logis memusatkan perhatian pada hasil pengamatan dan eksperimen sebagai dasar perumusan hukum empiris yang kemudian dijelaskan oleh teori-teori ilmiah tingkat tinggi. Karl Popper menegaskan bahwa eksperimen selalu dipandu oleh pertanyaan dan hipotesis teoretis, sehingga eksperimen tidak pernah sepenuhnya mandiri dari teori.
Pendekatan historisis yang berkembang pada tahun 1960-an dan 1970-an, melalui tokoh seperti Norwood Russell Hanson, Thomas Kuhn, dan Paul Feyerabend, semakin menegaskan bahwa pengamatan dan eksperimen bersifat sarat teori. Mereka berpendapat bahwa keyakinan dan harapan teoretis memengaruhi cara manusia mempersepsikan hasil eksperimen, sehingga dua pengamat dengan kerangka teori berbeda dapat melihat hal yang berbeda pada objek yang sama.
Menuju Epistemologi Eksperimen
Filsafat sains kontemporer menunjukkan pergeseran fokus dari produk akhir eksperimen menuju praktik eksperimental itu sendiri. Ian Hacking menegaskan bahwa yang lebih penting bukan sekadar observasi, melainkan kemampuan merancang, membangun, dan menjalankan pengaturan eksperimen yang dapat menghasilkan fenomena secara andal. Pergeseran ini melahirkan epistemologi eksperimen, yaitu kajian tentang bagaimana pengetahuan ilmiah diperoleh melalui praktik eksperimental.
Contoh klasik dalam praktik eksperimental adalah eksperimen Henry Cavendish pada akhir abad ke-18 yang bertujuan mengukur gaya gravitasi. Dalam eksperimen ini, Cavendish menggantung dua bola timah kecil di kedua ujung sebuah batang kayu dan menempatkan dua bola timah besar di dekatnya, sehingga gaya tarik-menarik antara kedua pasangan bola tersebut menyebabkan batang berputar. Untuk memperoleh hasil yang akurat, Cavendish merancang alat dan kondisi eksperimen secara sangat cermat, termasuk menjaga kestabilan suhu ruangan dengan menempatkan alat di ruang tertutup, menggunakan mekanisme kendali jarak jauh, serta mengamati pergerakan batang melalui teleskop guna meminimalkan gangguan eksternal. Praktik ini menunjukkan bahwa penilaian manusia (judgment) memainkan peran penting dalam menentukan kapan sebuah eksperimen dianggap selesai, di mana stabilitas hasil menjadi indikator utama bahwa berbagai sumber gangguan telah berhasil diatasi, meskipun keputusan tersebut tidak bersifat mekanis atau otomatis.
Kesimpulan: Kemandirian Praktik Eksperimental
Secara keseluruhan, eksperimen tidak hanya berfungsi untuk menguji teori, tetapi juga untuk menemukan fenomena baru. Praktik eksperimental memiliki kemandirian relatif dari teori-teori tingkat tinggi, dan perubahan besar dalam teori tidak selalu diikuti oleh perubahan dalam praktik eksperimen. Oleh karena itu, sejarah eksperimen dan alat ilmiah perlu dipahami sebagai sejarah yang relatif independen dari teori.
Filsafat eksperimen menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan bukan sekadar kumpulan teori, melainkan praktik ilmiah yang terus berkembang, melibatkan desain alat, analisis data, penilaian manusia, serta dinamika sosial dalam komunitas ilmiah. Dengan demikian, filsafat eksperimen membuka peluang baru untuk mempererat hubungan antara sejarah dan filsafat sains melalui penekanan pada praktik ilmiah nyata.
Gambar : Henry Cavendish’s Experiment ( https://daily.jstor.org/the-strange-experiments-of-henry-cavendish/ )
Penulis: Anies Ratnapuspita
Mahasiswa RPL S2 Manajemen Pendidikan UNESA
Kelas P
NIM 25010845037