DISKUSI ILMIAH: METAFISIKA SEBAGAI STUDI PALING DASAR TENTANG STRUKTUR REALITAS MENURUT STEPHEN MUMFORD
DISKUSI ILMIAH: METAFISIKA SEBAGAI STUDI PALING DASAR TENTANG STRUKTUR REALITAS MENURUT STEPHEN MUMFORD
Surabaya, 29 September 2025 – Mahasiswa S2 Prodi Manajemen Pendidikan (MP) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (UNESA) khususnya kelas 2025 Reguler B, melaksanakan diskusi ilmiah dalam perkuliahan rutin yang membahas terkait Metafisika (Metaphysics). Diskusi tersebut dilaksanakan menggunakan media gmeet yang diikuti oleh 12 mahasiswa dengan pendamping dosen pengampu mata kuliah filsafat manajemen pendidikan Bapak Dr. Amrozi Khamidi, S.Pd., M.Pd.
Materi metafisika dipresentasikan oleh Masita Nur Hayati (25010845003) dengan tujuan membantu kita memahami struktur paling dasar dari kenyataan. Metafisika membahas studi paling mendasar tentang struktur realitas, pertanyaan tentang apa yang ada (ontologi), bagaimana sesuatu itu ada, dan hubungan dasar antara benda, sifat, peristiwa, waktu, sebab, kemungkinan, serta ketiadaan. Metafisika adalah upaya filosofis untuk memahami realitas pada tingkat terdalamnya, menyelidiki keberadaan, sifat, struktur, dan prinsip dasar dunia. Dalam bukunya Metaphysics: A Very Short Introduction (2012), Mumford menekankan beberapa poin kunci yaitu metafisika bukan spekulasi kosong, objek kajian metafisika, fungsi metafisika, dan metafisika bersifat mendasar
Dalam paparan tersebut materi yang dibahas adalah apa itu meja, apa itu lingkaran, apakah keseluruhan hanya jumlah bagian, apa itu perubahan, apa itu sebab, bagaimana waktu berlalu, apa itu manusia, apa itu yang mungkin, apakah ketiadaan itu sesuatu, dan apa itu metafisika. Bagi Mumford, pertanyaan “apa itu meja?” adalah cara sederhana untuk membuka pintu pada diskusi metafisika tentang identitas, substansi, dan keberadaan benda. Lingkaran adalah pintu masuk untuk mempertanyakan status realitas dari entitas abstrak: apakah mereka sungguh “ada” atau hanya konstruksi pikiran manusia untuk memahami dunia. Keseluruhan hanya jumlah bagian membuka diskusi tentang identitas keseluruhan, hubungan bagian-keseluruhan, dan sifat emergen yang muncul ketika bagian disusun bersama. Perubahan adalah kenyataan mendasar yang perlu dijelaskan metafisika bagaimana sesuatu bisa “tetap” sekaligus “berubah” dan apa yang membuat identitas tetap bertahan di balik transformasi sifat-sifatnya. Sebab adalah bagian fundamental dari realitas, tidak cukup dipahami sebagai pola kebiasaan, harus dipahami sebagai hubungan nyata yang muncul dari sifat (disposisi) benda. Waktu itu benar-benar dinamis (mengalir), ataukah statis (semua momen ada sekaligus). Identitas manusia lebih kompleks daripada sekadar tubuh: ada kesadaran, memori, bahkan relasi moral-sosial yang ikut membentuknya. Manusia selalu hidup dengan mempertimbangkan kemungkinan, bukan hanya kenyataan. dunia aktual hanyalah salah satu dari sekian banyak “dunia mungkin” yang bisa kita bayangkan. Menurut Mumford, pertanyaan “Apakah ketiadaan itu sesuatu?” membuka paradoks besar yaitu jika kita membicarakannya, kita memperlakukan “ketiadaan” sebagai sesuatu, tapi jika konsisten, ketiadaan mutlak berarti tidak ada apa-apa sama sekali bahkan konsep tentangnya tidak mungkin ada. Metafisika adalah usaha filosofis untuk memahami realitas pada tingkat terdalam, Ia berbeda dari sains, tapi tetap penting untuk melandasi sains. Ia bukan spekulasi kosong, melainkan refleksi kritis atas pertanyaan yang tidak bisa dihindari. Dengan metafisika, kita belajar bahwa hal-hal sederhana (meja, lingkaran, waktu, manusia) sebenarnya menyimpan persoalan mendasar tentang keberadaan.
Kegiatan diskusi berlangsung interaktif dengan adanya sesi tanya jawab. Salah satu mahasiswa bertanya terkait bagaimana konsep metafisika ini dapat diaplikasikan dalam manajemen pendidikan, khususnya dalam mengatur disposisi siswa di sekolah agar potensi mereka dapat termanifestasi optimal. Mahasiswa lain bertanya secara metafisik, kapan seorang peserta didik atau seorang manajer pendidikan dianggap tetap sebagai orang yang sama (mempertahankan identitas personalnya) meskipun telah menjalani transformasi radikal yang dihasilkan oleh proses pembelajaran, krisis, atau perubahan peran.
Dari pertanyaan tersebut disimpulkan bahwa manajemen pendidikan seharusnya tidak hanya mengatur perilaku (behavioral management), tetapi lebih jauh yaitu membaca disposisi metafisik siswa dan menciptakan kondisi agar disposisi itu bisa termanifestasi secara optimal. Maka sekolah bukan sekadar tempat belajar, melainkan arena aktualisasi potensi tersembunyi yang dipicu oleh lingkungan, relasi, dan proses perubahan yang dikelola secara sadar. Seorang siswa atau manajer pendidikan tetap dianggap “orang yang sama” jika ada kontinuitas disposisi dan keberlangsungan eksistensial yang menyatukan perubahan-perubahan radikal yang dialami. Identitas personal bukan ditentukan oleh atribut sesaat, melainkan oleh kesinambungan disposisi dasar dan garis waktu eksistensi yang tetap terjaga.
Sebagai penguatan materi, di akhir sesi dosen pengampu menjelaskan bahwa metafisika menurut Stephen Mumford pada dasarnya mengajak kita untuk memahami realitas secara lebih dalam, bukan hanya apa yang tampak, tetapi apa hakikat dari sesuatu itu sendiri. Hal-hal sederhana seperti meja, lingkaran, perubahan, waktu, hingga identitas manusia ternyata menyimpan persoalan mendasar tentang keberadaan. Metafisika bukan spekulasi kosong, tetapi upaya rasional untuk memahami struktur terdalam dari dunia tempat kita hidup. Pemikiran ini menjadi relevan ketika diterapkan dalam konteks manajemen pendidikan, setiap siswa dan pengelola pendidikan memiliki potensi dasar yang bisa muncul ketika dipicu oleh kondisi yang tepat. Pendidikan bukan sekadar mengatur perilaku, tetapi menciptakan ruang di mana potensi itu bisa menjadi nyata. Perubahan yang terjadi pada siswa bukan tanda hilangnya identitas, tetapi proses aktualisasi diri yang berlangsung secara berkelanjutan. Dengan perspektif ini, manajemen pendidikan dipahami sebagai proses memahami potensi dasar manusia, menyediakan lingkungan yang memicunya, dan mendampingi perubahan tanpa menghilangkan identitas personal. Sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi arena berkembangnya potensi, relasi, dan struktur diri yang membawa siswa dari kemungkinan menuju kenyataan.