Eksperimen sebagai Pilar Pengetahuan Ilmiah: Perspektif Arabatzis
Eksperimen sebagai Pilar Pengetahuan Ilmiah: Perspektif Arabatzis

Surabaya - 1 Desember 2025
Dalam karya pentingnya Hidden Entities and Experimental Practice, Arabatzis menunjukkan bahwa eksperimen sains bukan sekadar alat verifikasi teori, melainkan praktik epistemik yang fundamental yaitu suatu proses aktif di mana peneliti mendesain kondisi, alat, dan prosedur untuk “menghadirkan” fenomena ilmiah, termasuk entitas-entitas yang tidak langsung dapat diamati. Dengan demikian, fakta ilmiah bagi Arabatzis bukan hanya ditemukan, tetapi juga dibentuk melalui interaksi manusia–alat–alam dalam konteks historis dan praktis tertentu. Temuan ini menantang gagasan bahwa sains hanya konsisten pada teori dan observasi, sebaliknya ia menekankan pluralitas cara entitas ilmiah muncul, berkembang, atau bahkan hilang dalam sejarah ilmu. Dalam kerangka ini, objek sains dianggap dinamis bukan entitas tetap yang statis, melainkan sesuatu yang bisa “lahir”, “berubah”, atau hilang sesuai dengan desain eksperimen, teori yang mendasari, dan konteks historis.
Jika eksperimen (dengan desain aktif, manipulasi kondisi, dan refleksi kritis) adalah inti dari produksi pengetahuan ilmiah, implikasinya bagi dunia pendidikan sangat besar. Dalam konteks manajemen pendidikan, hal ini mendorong redefinisi peran sekolah/universitas: dari sekadar menyalurkan teori, menjadi ekosistem produksi pengetahuan. Manajemen pendidikan ideal menurut pendekatan ini harus menciptakan lingkungan yang mendukung “learning-by-doing”, eksplorasi, dan praktik penelitian bukan hanya menyampaikan materi secara pasif. Ini relevan dengan prinsip pendidikan modern yang menekankan keterampilan praktis, kolaborasi, dan kreativitas. Lebih jauh, manajemen harus mempertimbangkan aspek struktural: penyediaan fasilitas laboratorium atau ruang eksperimen, pelatihan guru/dosen sebagai fasilitator eksperimen, dan fleksibilitas kurikulum agar memungkinkan kegiatan penelitian dan eksplorasi lintas disiplin.
Studi empiris menunjukkan bahwa implementasi pembelajaran berbasis eksperimen dapat meningkatkan kolaborasi, keterlibatan, dan kemampuan siswa dalam mengintegrasikan konsep dengan pengalaman langsung. Eksperimen memberikan pengalaman kognitif dan sosial: siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga bekerja sama, berkomunikasi, mengambil keputusan bersama, dan mengembangkan soft-skill penting sebagai calon pendidik atau profesional. Namun, dalam banyak institusi pendidikan masih berlaku model tradisional seperti transfer teori secara dominan, dengan sedikit ruang untuk eksperimen atau proyek nyata. Hal ini menunjukkan bahwa adopsi epistemologi eksperimen dalam pendidikan memerlukan manajemen yang sengaja mendesain ulang strategi kurikulum dan kebijakan.
Mengadopsi perspektif Arabatzis dalam manajemen pendidikan berarti menjadikan sekolah/universitas sebagai komunitas ilmiah bukan sekadar lembaga transmisi informasi. Manajemen harus membangun struktur yang memungkinkan pembelajaran, eksperimen, evaluasi, dan refleksi secara sistematis. Ini bisa meliputi desain kurikulum fleksibel, fasilitas riset bagi siswa dan guru, alokasi waktu untuk proyek eksperimen, serta pelatihan pedagogis bagi guru/dosen untuk berperan sebagai fasilitator riset dan eksperimen. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi membentuk kemampuan kritis dan kreatif: generasi yang mampu menyelidiki, menguji, dan membangun pengetahuan baru yang relevan dengan tuntutan zaman dan kebutuhan inovasi.
Tentu ada tantangan nyata seperti keterbatasan sumber daya (fasilitas, dana, waktu), resistensi terhadap perubahan pedagogis, serta budaya pendidikan yang lebih nyaman dengan metode tradisional. Banyak sekolah masih berorientasi pada kurikulum padat dan pencapaian nilai, bukan eksplorasi. Namun potensi yang bisa dibuka sangat besar: siswa menjadi bukan hanya konsumen pengetahuan, melainkan produsen dengan keterampilan berpikir kritis, kemampuan penelitian, dan kreativitas. Guru/dosen juga berubah dari pengajar menjadi fasilitator dan mentor eksperimen. Dalam jangka panjang, manajemen pendidikan yang mengadopsi epistemologi eksperimen bisa menghasilkan lulusan yang adaptif terhadap perubahan, siap mengeksplorasi masalah baru, dan berkontribusi pada perkembangan ilmu dan masyarakat bukan hanya mengulang pengetahuan lama.
Pemikiran Theodore Arabatzis menawarkan fondasi teoritis yang kuat: bahwa eksperimen adalah pusat produksi pengetahuan ilmiah, bukan sekadar alat verifikasi. Jika dipahami dan diterapkan dalam pendidikan, maka sekolah/universitas bisa bertransformasi menjadi komunitas ilmiah dan kreatif. Manajemen pendidikan perlu mengambil peran strategis seperti merancang kurikulum, menyediakan fasilitas, membangun budaya kolaborasi dan refleksi, serta memfasilitasi eksperimen dan riset nyata di lingkungan pendidikan. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya menyampaikan teori atau fakta, tetapi membentuk pemikir kritis, peneliti, dan inovator. Hal ini relevan untuk menghadapi kompleksitas dan dinamika zaman, serta menyiapkan generasi yang mampu membangun pengetahuan dan solusi baru.