Menghadirkan Sosok Pahlawan di Sekolah: Pentingnya Gerakan Ayah Mengambil Rapot
Menghadirkan Sosok Pahlawan di Sekolah: Pentingnya Gerakan Ayah Mengambil Rapot
Selama puluhan tahun, koridor sekolah saat pembagian rapot biasanya didominasi oleh para ibu. Pemandangan ini seolah menegaskan stigma lama bahwa urusan domestik dan pendidikan anak adalah "wilayah" perempuan, sementara ayah cukup menjadi penyokong finansial di balik layar. Namun, belakangan ini muncul sebuah tren positif yang mulai mengakar di sekolah-sekolah Indonesia: Gerakan Ayah Mengambil Rapot. Mengambil rapot bukan sekadar menerima selembar kertas berisi angka-angka. Ini adalah momen krusial bagi perkembangan psikologis anak. Berikut adalah alasan mengapa kehadiran ayah sangat berdampak:
1) Pesan "Pentingnya Pendidikan": Saat seorang ayah meluangkan waktu di tengah kesibukannya bekerja, anak akan menangkap pesan kuat bahwa pendidikan adalah prioritas utama bagi keluarganya.
2) Membangun Kedekatan Emosional: Anak merasa dihargai dan diperhatikan secara utuh. Kehadiran ayah di sekolah memberikan rasa bangga dan aman (security) bagi anak di depan teman-teman dan gurunya.
3) Perspektif Berbeda dalam Diskusi: Ayah dan ibu seringkali memiliki sudut pandang berbeda dalam melihat tantangan anak. Diskusi antara ayah dan guru dapat melahirkan solusi yang lebih komprehensif untuk perkembangan bakat anak.
·
Dampak Positif Bagi Anak
Penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan aktif ayah dalam pendidikan berhubungan erat dengan:
1. Prestasi Akademik yang Lebih Baik: Anak cenderung lebih termotivasi untuk belajar.
2. Kesehatan Mental yang Stabil: Mengurangi risiko kecemasan dan perilaku menyimpang pada remaja.
3. Keterampilan Sosial: Anak menjadi lebih percaya diri dalam berinteraksi di lingkungan sosial.
"Seorang ayah tidak hanya memberi nafkah dengan materi, tapi juga dengan kehadirannya. Rapot adalah rapor hasil perjuangan anak, dan ia butuh kedua orang tuanya untuk merayakannya."
Tantangan dan Cara Memulainya
Bagi banyak ayah, kendala utama biasanya adalah izin kerja atau rasa canggung karena merasa tidak "paham" perkembangan harian anak. Berikut tips untuk memulainya:
a) Komunikasi dengan Kantor: Ajukan izin atau cuti beberapa jam jauh-jauh hari. Jelaskan bahwa ini adalah bagian dari tanggung jawab pengasuhan.
b) Pelajari Catatan Guru: Sebelum berangkat, berdiskusi dulu dengan istri mengenai apa yang perlu ditanyakan kepada wali kelas.
c) Apresiasi Proses, Bukan Hanya Angka: Saat menerima rapot, fokuslah pada usaha anak. Hindari langsung menghakimi jika ada nilai yang kurang, melainkan ajak anak berdiskusi untuk memperbaikinya bersama.
Ditengah tengah kesibukan menjadi Dosen dan KA PRODI S2 MANAJEMEN PENDIDIKAN UNESA Pada hari Sabtu 20/12/2025 Dr. Amrozi Khamidi, S.Pd., M.Pd. adalah dosen di Universitas Negeri Surabaya Dan KA PROPODI S2 MANAJEMEN PENDIDIKAN UNESA Masih menyempatkan mengambil Rapot Putra nya Hermansyah Yudha P Yang Putra nya bersekolah Di SDN NGARES
Dr. Amrozi Khamidi, S.Pd., M.Pd. Saat di wawancarai menyampaikan bahwa Gerakan Ayah Mengambil Rapot adalah langkah kecil yang berdampak besar bagi masa depan bangsa. Dengan hadirnya ayah di sekolah, kita sedang meruntuhkan tembok pembatas gender dalam pengasuhan dan membangun fondasi karakter anak yang lebih kokoh. Beliau juga menyampaikan jika pas hari sabtu libur tidak ada kegiatan jadi di sempatkan untuk ambil Rapot Putra tercinta
Jadi, Ayah, sudah siapkah meluangkan waktu di pembagian rapot semester ini?
Penulis
Dr. Amrozi Khamidi, S.Pd., M.Pd.
KA PRODI S2 MANAJEMEN PENDIDIKAN UNESA