Pembelajaran di SMPN 18 Gresik dalam Perspektif Filsafat Esensialisme dan Naturalisme
Pembelajaran di SMPN 18 Gresik dalam Perspektif
Filsafat Esensialisme dan Naturalisme
Menganti, 08 Desember 2025
Pendidikan tingkat SMP merupakan fase penting untuk membentuk dasar intelektual, karakter, serta kecakapan sosial siswa. SMPN 18 Gresik berupaya mengembangkan pembelajaran yang seimbang antara capaian akademik dan pengalaman belajar autentik, sehingga analisis melalui perspektif filsafat esensialisme dan naturalisme menjadi relevan untuk memahami arah pengembangan pembelajaran di sekolah ini, yang terkait dengan mata kuliah Filsafat Pendidikan yang diampu oleh Dr. Amrozi Khamidi, M.Pd.
Esensialisme sebagai aliran pendidikan menekankan pentingnya pengetahuan dasar, ketertiban berpikir, dan penguasaan konsep-konsep inti. Praktiknya tampak jelas pada pembelajaran Matematika, IPA, IPS, dan Bahasa Indonesia yang disampaikan secara terstruktur menggunakan modul ajar dan buku paket. Guru memulai pembelajaran dengan apersepsi, penjelasan sistematis, serta latihan terarah melalui LKS (Lembar Kerja Siswa) dan evaluasi formatif. Pembiasaan membaca 15 menit, penguatan literasi dan numerasi, serta penggunaan bahasa Indonesia yang baik dalam jawaban tertulis menjadi bentuk implementasi kedisiplinan akademik. Guru berperan sebagai otoritas akademik yang mengarahkan alur pembelajaran, memastikan siswa memahami konsep sebelum mengerjakan tugas mandiri. Pendekatan ini mencerminkan karakter khas esensialisme yang mengutamakan fondasi pengetahuan kokoh sebelum kreativitas berkembang.
Di sisi lain, naturalisme menempatkan anak sebagai individu yang tumbuh melalui pengalaman langsung dan lingkungan alamiah. Dalam konteks ini, SMPN 18 Gresik menerapkan pembelajaran berbasis proyek, eksplorasi lingkungan, dan kegiatan eksperimen. Siswa melakukan observasi alam, wawancara tokoh masyarakat, membuat karya seni, hingga proyek sosial yang memungkinkan mereka mengonstruksi pengetahuan secara mandiri. Guru berperan sebagai fasilitator yang membuka ruang eksplorasi, memberi kesempatan siswa belajar dari kesalahan, dan mendampingi proses penemuan mereka. Lingkungan sekolah dimanfaatkan sebagai laboratorium belajar melalui program kebersihan, greenhouse mini, pengelolaan sampah, serta observasi ekosistem di taman sekolah. Interaksi sosial melalui kegiatan OSIS, ekstrakurikuler, dan program budaya turut memperkaya pengalaman naturalistik siswa.
Pembelajaran di SMPN 18 Gresik memperlihatkan integrasi harmonis antara kedua aliran tersebut. Esensialisme memberi struktur akademik dan ketertiban belajar, sementara naturalisme menghadirkan fleksibilitas, kreativitas, dan pengalaman autentik. Integrasi ini tampak pada pembelajaran IPA yang dimulai dengan penguatan konsep dasar, dilanjutkan eksperimen laboratorium; pada Bahasa Indonesia penguasaan ciri teks disertai proyek penulisan berdasarkan pengamatan; dan pada IPS penguatan konsep ekonomi diikuti kegiatan kewirausahaan. Sinergi ini menghasilkan pembelajaran yang berimbang: kuat secara akademik dan kaya pengalaman kontekstual.
Namun, penerapan kedua paradigma ini menghadapi tantangan. Esensialisme dapat membuat pembelajaran terlalu berpusat pada guru, sementara naturalisme memerlukan waktu, sarana, dan kemampuan pedagogis tinggi untuk mendampingi siswa secara mandiri. Kesiapan guru dalam menyeimbangkan capaian kurikulum dan aktivitas eksploratif menjadi kunci keberhasilan.
Pada era digital, perpaduan kedua aliran ini semakin relevan. Esensialisme memberikan literasi dasar dan kemampuan berpikir kritis untuk memilah informasi, sedangkan naturalisme membekali siswa dengan kreativitas, kolaborasi, dan kemampuan adaptif. Pemanfaatan platform digital, video pembelajaran, dan aplikasi kuis interaktif menunjukkan bahwa SMPN 18 Gresik telah mengarah pada pendidikan modern yang menggabungkan struktur dengan fleksibilitas.
Dari aspek karakter, esensialisme membentuk disiplin, tanggung jawab, dan ketertiban, sementara naturalisme memberikan ruang bagi kemandirian, empati, dan pembelajaran moral melalui pengalaman nyata. Konsep “alam takambang jadi guru” memperkuat gagasan bahwa pengalaman dan lingkungan menjadi sumber belajar sekaligus pembentuk karakter, selaras dengan prinsip growth mindset.
Secara keseluruhan, pembelajaran di SMPN 18 Gresik berhasil memadukan nilai-nilai esensialisme dan naturalisme secara proporsional. Dengan memperkuat kapasitas guru dalam mengelola pembelajaran inovatif dan responsif, sekolah ini berpotensi terus menjadi lembaga yang unggul secara akademik, serta mampu membentuk siswa yang kreatif, berkarakter mulia, dan siap menghadapi tantangan zaman.
Penulis: Evi Sulistiyani
Mahasiswa S2 RPL-P/2025 Manajemen Pendidikan UNESA
NIM 25010845032


Dokumen Foto