SLBN PPU Cetak ABK Mandiri Lewat Program Vokasi 7P Mix: 82% Lulusan Buka Usaha Sendiri
SLBN PPU Cetak ABK Mandiri Lewat Program Vokasi 7P Mix: 82% Lulusan Buka Usaha Sendiri
Penajam Paser Utara, 3 Desember 2025 --- Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Penajam Paser Utara (PPU) membuktikan bahwa Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) mampu mandiri secara ekonomi melalui pendidikan vokasi berbasis kewirausahaan. Sejak restart program tahun 2022, sekolah yang berlokasi di Jalan Provinsi Km. 4 Nenang ini berhasil mencetak 82% lulusannya untuk membuka usaha sendiri dengan omzet mencapai Rp72 juta per tahun.
Program ABKpreneur yang diinisiasi SLBN PPU menerapkan strategi pemasaran 7P Mix (Product, Price, Place, Promotion, People, Process, Physical Evidence) dan analisis SWOT sebagai kerangka pengembangan kewirausahaan. Mahasiswa S2 Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Surabaya, Harisah, mengkaji model ini dalam mata kuliah Kewirausahaan Pendidikan yang diampu Dr. Amrozi Khamidi, S.Pd., M.Pd.
"Kami mengubah paradigma dari 'ABK tidak bisa' menjadi 'ABK produktif'. Setiap siswa memiliki Individual Education Plan yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi vokasi mereka," ungkap pihak sekolah dalam paparan program.
Produk Unggulan Berbasis Ekonomi Lokal IKN
SLBN PPU mengembangkan berbagai produk inklusif yang ramah lingkungan, antara lain ikan cupang premium halfmoon dan plakat fighter (Rp25.000-35.000 per ekor), tas anyaman bambu motif Dayak Paser (Rp85.000), hingga kue klepon halal (Rp30.000 per pack). Produk-produk ini dijual melalui e-commerce "PPU ABK Mart" di Shopee dan Tokopedia, serta stand tetap di Pasar Minggu IKN.
Dengan fasilitas 12 kolam budidaya dan greenhouse, sekolah mampu memproduksi 12.800 pieces per tahun dengan omzet bulanan mencapai Rp4,8 juta. Produk unggulan bahkan menembus pasar Jakarta melalui platform digital dan mendapat dukungan CSR dari PLN dan Pertamina senilai Rp1,5 miliar per tahun.
Strategi SWOT dan Kolaborasi Multi-Pihak
Analisis SWOT menunjukkan SLBN PPU memiliki kekuatan strategis sebagai penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) dengan dukungan dana BOSDA Rp750 juta per tahun dan gratispol Kaltim. Sekolah juga meraih Juara LKS Vokasi Kaltim 2025 dan viral di TikTok dengan 2,1 juta views.
Namun tantangan tetap ada, seperti jumlah siswa yang terbatas (85 siswa), akses internet lemah di pelosok yang menghambat e-commerce, dan ancaman banjir musiman yang berpotensi merugikan hingga Rp15 juta per musim.
Untuk mengatasi kelemahan tersebut, SLBN PPU menjalin 25 Memorandum of Understanding (MoU) dengan UMKM, PLN Hub IKN, Hotel Nusantara, dan Pasar Seni. Program ini juga melibatkan orang tua dengan mengadakan kelas motivasi bulanan yang diikuti 80% wali murid.
Visi Inklusif Menuju 2030
Dengan visi "Terwujudnya Anak Berkebutuhan Khusus yang Mandiri, Produktif, dan Berakhlak Mulia dalam Bingkai Ibu Kota Nusantara yang Inklusif", SLBN PPU menargetkan omzet Rp1 miliar pada tahun 2030 dengan 90% lulusan menjadi wirausaha.
Dr. Amrozi menekankan pentingnya model ini sebagai best practice pendidikan inklusif. "Kewirausahaan bukan hanya soal menjual produk, tapi membangun karakter mandiri dan percaya diri ABK untuk bersaing di dunia kerja," jelasnya saat diskusi dengan mahasiswa.
Program ini membuktikan bahwa dengan pendekatan tepat, dukungan pemerintah, dan kolaborasi multi-pihak, pendidikan vokasi ABK dapat menjadi solusi nyata mengatasi diskriminasi kerja dan membangun masa depan inklusif di IKN.
Penulis:
Harisah
Mahasiswa S2 Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Surabaya